Warung Tempuran, Kare dan Jamur ala Bojonegoro

Warung Tempuran, Kare dan Jamur ala Bojonegoro

Bojonegoro, Jawa Timur
Tempuran adalah sebuah dusun yang cukup terpencil di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, sejak Warung Tempuran berdiri, nama Tempuran menjadi populer, setidaknya bagi penggemar kuliner di Bumi Anglingdharma ini.

Lokasi Warung Tempuran sendiri berada di tengah ‘ladang’ bambu dengan sungai kecil dan jembatan yang cukup khas pedesaan. Untuk menuju ke tempat makan yang cukup populer ini, dari perempatan Pasar Ngumpakdalem harus berbelok ke arah barat dan menyusuri jalan berpaving dengan pemandangan persawahan di kanan-kirinya.

Meski cukup jauh dan berbelok-belok, namun papan nama yang dipasang di beberapa lokasi, membuat Warung Tempuran cukup mudah ditemukan. Namun, sebelum sampai di lokasi ada beberapa tempat makan yang sepintas, bagi yang belum pernah, mirip dengan bayangan Warung Tempuran.

Sebuah musholla menjadi bangunan yang menandakan bahwa disitulah harus berhenti. Pengunjung dapat memarkir kendaraanya di halaman musholla, ataupun agak turun dan parkir di tepi sungai kecil.

Bangunan Warung Tempuran, didominasi dengan bahan bambu yang cukup unik, bagi yang memilih parkir di bawah, anak tangga dengan batas bambu adalah jalur yang harus dilewati. Setelah berada di dalam, dengan gaya lesehan, dipastikan setiap meja telah terpampang menu yang ditawarkan. Tak ada petunjuk yang jelas tentang cara memesan menu yang disajikan, namun tak terlalu lama seorang pelayan akan menghampiri dan menayakan menu yang dipesan.

Tipsnya adalah, tanyakan menu yang tidak dimengerti, karena Warung Tempuran menyajikan beberapa menunya dengan nama yang tak lazim. Selain itu, pastikan agar si pelayan membacakan ulang menu yang dipesan, karena tak jarang ternyata yang disajikan tak sama dengan yang dipesan.

Dari sederetan menu di Warung Tempuran, terdapat beberapa yang ala Bojonegoro, diantaranya adalah kare, jamur tiram, nasi jagung, dan tempe goreng. Sayangnya tak ada menu berbahan tahu, padahal di Bojonegoro cukup banyak pengrajin tahu.

Kare ala Bojonegoro
Kare yang dibuat dengan cita rasa pedas adalah salah satu masakan yang cukup khas di Bojonegoro. Dengan nama Kare Kepala Ayam, ternyata menu ini di Warung Tempuran tak hanya menyuguhkan kepala ayam, melainkan masih ditambah ceker (kaki ayam).

Kare Kepala Ayam Warung Tempuran ini disajikan dalam wadah mangkuk, dengan ditadahi piring (mungkin maksudnya untuk tempat tulangnya, karena memang tak ada tempat sampah lain). Satu porsi menu ini, berisi 2 kepala dan 2 ceker. Bagi penyuka rasa gurih pedas menu ini sangat cocok, pedasnya langsung menghantam pada suapan pertama, ditambah taburan bawang goreng yang memperkuat rasa gurihnya.

Karena kepala dan ceker mempunyai komposisi tulang yang lumayan, dipastikan tangan akan belepotan saat menyantap menu ini. Jangan kuatir, meskipun tak menyiapkan kobokan, di sekitar meja telah dipasang kran air dan sabun yang dapat digunakan.

Satu porsi menu ini sebenarnya cukup untuk dimakan berdua, maklumlah, rasa kare yang kuat dengan porsi kuah yang lumayan banyak, sudah cukup nikmat untuk dijadikan teman makan nasi.

Selain rasa pedas yang cukup, daging dan kulit kepala ayam juga terbilang empuk, dengan bumbu yang sangat meresap, menu ini terbilang dapat dijadikan sebagai favorit. Harga satu porsi Kare Kepala Ayam di Warung Tempuran cukup terjangkau, yakni Rp 11.000.

Oseng Jamur ala Bojonegoro
Dengan harga Rp 11.000 per porsinya, menu yang diberi nama Jamurmuran ini menggunakan jamur tiram sebagai bahan bakunya. Disajikan agak basah, dengan irisan cabe merah yang cukup menonjol, Warung Tempuran agaknya mempertahankan rasa asli dari jamur yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Bojonegoro.

Karena mempertahankan rasa aslinya, kekenyalan jamurmuran cukup terjaga, termasuk sedikit rasa pahit yang biasanya memang terdapat di dalamnya. Menu ini tak terlalu pedas, bahkan rasa gurih asin yang biasa menjadi ciri olahan tumis juga tak terlalu dominan.

Sebenarnya akan lebih pas lagi bila ada atribut saos atau kecap dan sambal, namun Warung Tempuran tak menyediakannya di meja pengunjungnya.

Nasi Putih ala Bojonegoro
Terdapat 3 pilihan nasi yang ditawarkan, yakni nasi putih, nasi jagung dan nasi oplosan, yang kesemuanya dipatok harga Rp 3.000 per bungkusnya, ya nasi di Warung Tempuran memang disajikan dalam bungkusan. Dapat disebut ala Bojonegoro, karena bungkus yang digunakan adalah daun jati yang merupakan tanaman unggulan di Kabupaten ini.

Porsi yang disajikan cukup membuat perut kenyang, sementara aroma daun jatinya serta sedapnya lauk pauk akan menambah selera makan. Untuk kualitas beras yang digunakan, Warung Tempuran perlu mendapat acungan jempol, selain punel penampilan menu yang diberi nama Nasi Beras Putih ini juga sangat terjaga.

Selain dua menu diatas, menu lain yang patut dicoba adalah olahan ikannya, terutama Gurami Bakar. Meskipun harganya terbilang mahal, yakni Rp 25.000 per ekornya, gurami bakar olahan Warung Tempuran ini tak kalah dengan menu serupa yang disajikan oleh restoran-restoran besar.

“Tak ada bau amisnya sama sekali”
Yani (Pengunjung)

Warung Tempuran mempunyai standar tersendiri untuk menu ini, yakni ikan yang disajikan selalu mempunyai berat minimal 300 gram. Ukuran itu membuat satu porsinya menjadi sangat nyaman untuk dinikmati, selain untuk lauk makan, tak kalah nikmatnya disantap bersama sebagai camilan.

Seluruh menu di Warung Tempuran, selain dapat dinikmati di tempat yang mempunyai desain cukup ‘ndeso’, pihak pengelola juga menyediakan fasilitas bungkus (bawa pulang).

Mengenai kondisi lokasi, secara umum sangat menyenangkan. Bangunan panggung bambu dengan kolam ikan di tengah-tengahnya menjadi daya tarik tersendiri. Selain jauh dari keramaian, yang menjadikan Warung Tempuran sebagai tempat makan yang tenang, aktifitas musholla yang ada tepat di sebelah juga menjadikan Warung Tempuran semakin unik.

Beberapa catatan yang perlu disampaikan, terutama saat musim penghujan adalah masih banyaknya atap yang bocor dan beberapa titik yang licin. Misalnya, anak tangga dari lokasi parkir di bawah, batas bambu yang digunakan pada anak tangga justru membuat titian menanjak ini semakin licin.

Selain itu, lokasi parkir juga masih agak merepotkan, bila mengendarai mobil dan memilih menempati lokasi di depan musholla, tikungan tajam di jalur sempit serta sedikit tanjakannya membutuhkan konsentrasi yang lebih. Lokasi parkir yang lebih lega berda di bawah, namun karena lantainya masih berupa tanah, maka saat hujan mengguyur dipastikan lokasi ini menjadi lebih menantang.

Konsep lesehan masih menjadi ciri khas dari Warung Tempuran ini, namun bagi yang lebih suka dengan konsep meja kursi, sebentar lagi Warung Tempuran akan menambah fasilitasnya dengan ruangan khusus berkonsep restoran. Tampak bangunan kayu setengah jadi yang disiapkan, mempunyai dua lantai yang telah bertangga, beberapa tamu sering memanfaatkannya sebagai tempat berfoto.

Bila penasaran dengan nyamannya wisata kuliner di Warung Tempuran, pihak pengelola hanya membuka warungnya pukul 08:00-17:00 dan tutup di hari Jumat. (red/esp)

About author

Related Articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *